Thursday, February 28, 2008

getting married?

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Q.S Ar-Ruum: 21)




Entah sudah berapa kali saya membaca rangkaian kalimat diatas yang merupakan terjemahan ayat dari salah satu surat dalam kitab suci Al-Qur’an.


Ya, kalimat tersebut seringkali kita lihat dalam kartu undangan pernikahan. Dan saat inipun saya tengah memegang dua buah kartu undangan pernikahan dari teman saya yang sedang berbahagia. Kartu yang pertama berisi undangan pernikahan dari Awa dan Lukman yang resepsinya akan dilangsungkan pada hari Ahad, 9 Maret 2008. Sedangkan kartu kedua berisi undangan pernikahan Tomo dan Rina yang akan dilangsungkan hari Sabtu, 22 Maret 2008.


Melihat kedua kartu undangan tersebut, membuat saya berpikir, ‘kapankah saya akan mengikuti jejak mereka?’


Menikah…berkeluarga…menggenapkan setengah Dien.

Menikah…mengarungi kehidupan berdua, dalam suka maupun duka, tangis dan canda. Semuanya berdua..

Menikah…? Kapan ya? May..? Maybe yes may be no..? (I won’t choose no…I love to say yes)


Jika anda membaca blog salah seorang teman saya, akan ditemukan banyak postingan yang menceritakan tentang persiapan pernikahan yang akan dijalani oleh teman saya itu. Setiap cerita tentang persiapan pernikahan itu begitu penuh dengan kegembiraan, bukan sekedar semangat, akan tetapi juga sebuah rasa yang bisa dibilang ‘excited’ atau ‘don’t wanna wait too long for it’ . mulai dari persiapan gedung, pakaian, catering, dan segala macam hal lainnya yang saya rasa akan membuat pusing jika saya berada di posisinya.


Memang, menikah bukan lah hal yang simple, dan juga bukanlah suatu hal yang rumit. Pada esensinya, menikah merupakan kesediaan antara pihak wanita dan pihak pria untuk saling berjanji untuk menjalani kehidupan bersama dalam ikatan cinta kasih yang abadi secara halal dan sesuai dengan ketentuan agama.


Dalam pelaksanannya, menikah pun tidaklah sesederhana itu. Banyak hal yang terkait dalam suatu konteks pernikahan. Dalam hal ini, pihak wanita tidaklah hanya si mempelai wanita itu sendiri, melainkan juga melibatkan keseluruhan keluarga si wanita tersebut. Begitu pula dengan pihak pria. Dalam hal ini yang sering dijumpai adalah kedua orang tua dari masing-masing mempelai. Lebih luas lagi dapat juga melibatkan sanak saudara dari masing-masing pihak. Dalam hal ini, menikah merupakan salah satu sarana efektif dalam menjalin silaturahim diantara kedua keluarga. Dan pada akhirnya kedua keluarga ini melebur menjadi satu, menjadi sebuah keluarga besar yang nantinya akan semakin meluas dengan adanya pernikahan-pernikahan selanjutnya.


Pernikahan merupakan perwujudan janji suci untuk menjalani kehidupan bersama dalam ikatan cinta kasih. Janji tersebut ditunjukkan pada saat kedua mempelai melakukan akad nikah. Secara implicit, sang mempelai pria berjanji untuk senantiasa menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai seorang suami, yaitu menjaga keluarganya, memenuhi kebutuhan keluarganya baik materi maupun rohani, dan sebagai pelindung serta penjaga keluarga. Sedangkan mempelai wanita pun berjanji akan selalu melaksanakan tu gas dan kewajibannya sebagai seorang isteri. Merawat suami dan anak, mendidik anaknya, mengurus rumah tangga, menjaga kehornatan kewibawaan sebuah keluarga. Sesungguhnya, dalam sebuah keluarga , tugas dan kewajiban suami isteri itu sangat banyak dan beragam. Akan tetapi, pada intinya diharapkan agar suami isteri saling membantu dalam menjalankan tugas dan kewajiban rumah tangganya.


Dengan menikah, hubungan pria dan wanita akan menjadi halal bagi keduanya. Si wanita adalah hak bagi si pria, begitu pun sebaliknya. Sedangkan dalam suatu hubungan di luar ikatan pernikahan, sesungguhnya merupakan hubungan yang belum halal bagi keduanya. Sehingga sedapat mungkin jika ingin halal, segeralah menikah…


Sekarang, yang menjadi pertanyaan adalah: ‘siapakah yang tidak ingin menikah?’


Semua orang pasti ingin menikah, menemukan pasangan hidupnya, menggenapkan setengah Dien-nya.


Akan tetapi pada masa sekarang ini, banyak hal yang membuat orang mengurunkan niatnya untuk segera menikah. Alasan klasik yang menjadi sebab utama adalah masalah nafkah.. selanjutnya adalah alasan kedewasaan bersikap.


Alasan nafkah selalu menjadi pikiran yang menghambat seorang pria untuk bersegera menikah. Dalam pikiran pria, sudah tertanam secara permanent bahwa jika ia sudah menikah nanti, ia lah yang mencari nafkah bagi keluarganya. Jangankan pada pria yang belum bekerja, pada pria yang sudah bekerja pun hal ini lah yang selalu mengisi pikirannya. Memang seringkali kita dengar, dengan menikah, rejeki akan datang dengan sendirinya. Akan tetapi tidaklah hanya menunggu, melainkan juga berusaha. Namun meskipun begitu tetap saja hal inilah yang menjadi pikiran utama seorang pria tatkala akan memutuskan menikah.


Mengenai kedewasaan bersikap, terkadang merupakan hal yang sangat sulit untuk ditentukan ukurannya. Apakah sudah cukup dewasa ataupun tidak. Kedewassan disini adalah mampu memahami dan menerima apa adanya suatu pernikahan itu. Tanpa adanya saling memahami dan menerima, takkan ada rasa saling menghargai, dan takkan ada rasa saling mencintai dan menyayangi. Sudah menjadi umum jika kedewassan tidak dapat diukur secara pasti. Memang, jika dilihat secara fisik orang yang akan menikah pastilah sudah dewasa. Akan tetapi kedewasaan bersikap, berpikir, dan bertindak tidak dapat ditentukan. Karena manusia adalah makhluk yang tidak identik satu sama lainnya. Antara pria dan wanita tidak akan pernah sama. Akan tetapi pernikahan membuat keduanya bersatu

…………………………………………………………………………………………………………………


-buat awa dan lukman…tomo dan rina…selamat menjalani kehidupan yang baru ya, semoga selalu dikaruniai limpahan rahmat dan rizki-Nya-


NB:

postingan bukan merupakan pendapat umum, meskipun bukan tidak mungkin juga jika merupakan pendapat umum …

hanya sekedar berbicara pada diri sendiri

2 comments:

***Marycha's Blog said...

waduh..waduh...
dah ngebet nikah ni...

nene said...

Ted, kalo dirimu kebanyakan berteori, tar nikahnya ga jadi-jadi lho, hehehe...
piss..
sing penting dilakoni wae...