Wednesday, June 25, 2008

Demo for what?



Mahasiswa demo lagi...
Jakarta macet lagi...
Mobil plat merah dibakar...
Satu mahasiswa ditabrak mobil polisi...

Seolah-olah semua itu sebuah kejadian yang umum banget di Jakarta pasca kenaikan harga BBM. Semua media massa baik cetak maupun elektronik pagi ini membahas aksi demonstrasi mahasiswa kemarin (24/06/2008) yang berujung rusuh.

Demonstrasi diwarnai aksi pembakaran mobil plat merah yang kemudian dibakar di tengah jalan sehingga menimbulkan kemacetan. Kadang gua bertanya, apa bener mereka demo buat rakyat? mengingat demonya mereka itu gak ada manfaatnya sama sekali buat rakyat. Yang ada malah bikin rugi rakyat, malah bikin macet, rakyat yang biasa naik angkutan umum pulang lebih telat. kemudian, apa bener tindakan membakar mobil plat merah? Bukankah mobil plat merah itu dibeli dari uang rakyat juga. Jadi sama aja merusak mobil plat merah dengan membakar uang rakyat. Apa mereka gak mikir kalo beli kendaraan dinas (plat merah) itu pake anggaran yang dikumpulin dari uang rakyat? Buat yang make kendaraan dinas itu sih gak terlalu berpengaruh. Rusak dibakar toh nantinya bakal diganti lewat pengadaan baru. Adanya pengadaan baru yang kurang penting tentunya bakal memboroskan anggaran lagi. Semakin anarkis mereka berdemo, sebenarnya semakin banyak kerugian buat rakyat. Mereka (mahasiswa) mikir gak si?


Mengenai mahasiswa yang ditabrak mobilk polisi, menurut gua itu wajar aja. Malah gua sukurin. Mahasiswa juga manusia, polisi juga manusia. Punya rasa takut dan ingin mempertahankan diri. Punya emosi juga. Polisi bukan robot yang gak punya rasa. Mahasiswa juga bukan dewa yang bisa bertindak seenaknya. Mereka sama-sama manusia. Kalo kita lihat rekaman penabrakan tersebut (gua lihat di TV, meski bagian bawah tertutup newsticker), gua ambil kesimpulan bahwa sebelum kejadian itu terjadi, seorang mahasiswa berlari ke tengah jalan (mungkin membawa batu atau benda keras buat dilempar) ke arah mobil polisi yang lewat. Polisi yang membawa mobil tersebut (mungkin) menyadari bahwa ada mahasiswa yang mau melempari mobilnya. Maka dia bertindak duluan dengan menabrak mahasiwa itu, sebelum mobil yang dikendarai dilempari batu atau dirusak. Sebelum diserang, menyerang duluan, mungkin itu yang ada di pikiran polisi yang mengemudikan mobil tersebut. meskipun setelahnya mobil polisi tersebut dilempari batu, dan untungnya bisa kabur.Jika mobil polisi tersebut tidak jadi menabrak, bukan tidak mungkin mobil tersebut akan dirusak dan polisi didalamnya akan dikeroyok seperti kejadian pengeroyokan polisi di Moestopo belum lama lalu.

Cape gua..
Cape ngelihat aksi yang saling merusak ini. membuat suasana tidak aman. Sebentar-sebentar demo. Mau sampai kapan si mahasiswa (yang katanya intelek) itu berdemo? Sampe pemerintah turun? Sampe presiden lengser? Kalau itu maunya, gak usah demo, tunggu aja pemilu 2009 nanti. Lalu, mau sampai kapan aksi anarkis terus berlanjut? Mereka emang gak punya cara lain atau apa sih? Lebih baik berdiskusi terbuka dengan jajaran pemerintah yang berkepentingan. Katanya kaum intelek, kok lebih mengutamakan otot daripada otak?

Gua bukan ngedukung siapa-siapa. Gua cuma rakyat biasa yang juga merasakan dampak kenaikan harga BBM. Gua cuma rakyat biasa yang pengin Jakarta damai. Berangkat dan pulang kerja tepat waktu. Gak pengin ada kerusuhan lagi. Bukankah lebih enak jika semuanya damai, dan ketika ada masalah segera dibicarakan dan diselesaikan dengan baik. Jangan hanya menuntut aksi tanpa menawarkan solusi nyata.

Coba deh berpikir jauh ke belakang. Perjuangan jaman dahulu itu melawan penjajah, semua bersatu. Tapi, kenapa sekarang malah sesama bangsa Indonesia saling melawan? Masih ada gak sih Pancasila sila ke-3, Persatuan Indonesia? Masih ada gak sih sila ke-4, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan? Masih adakah usaha dari semua elemen bangsa untuk mencapai sila ke-5, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia?

Daripada berdemo malah menimbulkan kerugian sosial, mending semua elemen berkepentingan baik itu mahasiswa, pemerintah, dan rakyat saling 'duduk bareng' membahas masalah dan memikirkan solusi yang paling sesuai dengan keadaan sekarang ini. Bukankah lebih baik menyelesaikan masalah dengan kepala dingin daripada kepala panas?

I ask you, Cape gak sih ngelihat demo dan rusuh setiap hari di TV?

0 comments: