Tuesday, June 10, 2008

Perguruan Tinggi Kedinasan: Sebuah Alternatif

Jika melihat (atau mengingat?) ke belakang menuju beberapa tahun yang lalu, sekitar 2002 tepatnya, kembali gua teringat akan masa-masa penantian menjelang pengumuman kelulusan dari SMU. Juga masa-masa pemilihan antara melanjutkan kuliah atau langsung mencari pekerjaan. Dan juga masa memilih ingin kuliah dimana? Negeri atau swasta. Ingin ikut SPMB atau tidak. Masa-masa peralihan meninggalkan bangku sekolah menuju jenjang pendidikan tinggi ataupun menuju realitas hidup sebenarnya dengan berusaha mencari pekerjaan.

Memang, medio waktu Juni-Juli merupakan masa krisis bagi lulusan SMU yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Krisis tersebut tak hanya dirasakan oleh lulusan SMU, tapi juga oleh orang tuanya. Bagaimana tidak, sekarang ini untuk mendaftar ke perguruan tinggi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Mulai uang pendaftaran, uang sumbangan pembangunan, uang SPP per semester, belum lagi uang praktikum, dan sebagainya dan sebagainya. Mungkin buat sebagian orang masalah tersebut tidak menimbulkan krisis yang berarti. Tapi buat sebagian besar orang yang mempunyai semangat tinggi untuk melanjutkan pendidikan, namun tak dibekali kemampuan finansial yang cukup, tentu akan menjadi masalah.



Kemudian apa yang bisa dilakukan ketika semua itu datang?
Jawaban dari setiap orang bermacam-macam. Ada yang memutuskan untuk tetap mendaftar kuliah dengan harapan bisa mendapatkan beasiswa nantinya sekaligus dengan mencari pekerjaan paruh waktu. Ada pula yang terpaksa meminjam sana-sini untuk mendaftarkan anaknya ke perguruan tinggi. Masalah bayar urusan nanti. Ada pula yang menyerah dan memutuskan untuk mencari pekerjaan dengan modal ijazah SMU. Tetapi pernahkah ada yang mengetahui bahwa sebagian perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi kedinasan menawarkan program perkuliahan tanpa memungut bayaran, alias gratis, dan lulusannya dapat memperoleh kesempatan untuk ditempatkan di instansi yang terkait dengan perguruan tinggi kedinasan tersebut.

Tentunya hal ini dapat menjadi jalan keluar bagi sebagian (besar) masyarakat yang menginginkan anaknya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dengan biaya yang terjangkau bahkan gratis. Dan ketika lulus pun tidak perlu repot mencari pekerjaan, karena biasanya lulusan perguruan tinggi kedinasan akan diangkat menjadi pegawai pada instansi yang terkait yang membawahi perguruan tinggi kedinasan tersebut.

Berikut ini daftar perguruan tinggi kedinasan di Indonesia, disusun berdasarkan nama departemen/kementerian/LPND yang membawahi.

Departemen Hukum Dan Hak Asasi Manusia:
* Akademi Imigrasi (AIM), Gandul (Cinere, Kota Depok, Jawa Barat)
* Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP), Gandul (Cinere, Kota Depok, Jawa Barat)

Departemen Luar Negeri:
* Akademi Dinas Luar Negeri (ADLN), Jakarta (sudah ditutup)

Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral:
* Akademi Minyak dan Gas Bumi (Akamigas), Cepu, Blora, Jawa Tengah

Departemen Dalam Negeri:
* Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), Jatinangor (Sumedang, Jawa Barat)
* Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), gabungan dari STPDN dan IIP

Departemen Keuangan:
* Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Kabupaten Tangerang, Banten

Departemen Perindustrian RI:
* Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (ST3), Jl.Jakarta No.31, Kota Bandung, Jawa Barat

Departemen Kesehatan:
* Akademi Fisioterapi Surakarta, Jawa Tengah
* Akademi Keperawatan
* Akademi Teknik Medik

Badan Pusat Statistik:
* Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, Jl. Otista, Jakarta

Kepolisian Negara RI:
* Akademi Kepolisian (Akpol), Semarang, Jawa Tengah

Tentara Nasional Indonesia:
* Akademi Militer (TNI Angkatan Darat), Magelang, Jawa Tengah
* Akademi Angkatan Laut (TNI Angkatan Laut), Surabaya, Jawa Timur
* Akademi Angkatan Udara (TNI Angkatan Udara), Yogyakarta
* Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut(TNI Angkatan Laut),Surabaya,Jawa Timur

Lembaga Sandi Negara Republik Indonesia:
* Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN), Bogor, Jawa Barat

Badan Tenaga Nuklir Nasional:
* Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN), Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta

Untuk info mengenai Perguruan Tinggi Kedinasan lainnya juga dapat dilihat disini.

Untuk bisa masuk ke Perguruan Tinggi Kedinasan tersebut, calon mahasiswa paling tidak memiliki batas nilai minimum yang berbeda-beda untuk setiap PTK. Sebagai contoh STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) mensyaratkan nilai rata-rata minimum 7.00 untuk dapat mendaftar USM (Ujian Saringan Masuk) STAN. Khusus spesialisasi Bea Cukai, selain tes tertulis juga diharuskan mengikuti tes kesehatan.

Dengan adanya alternatif melanjutkan ke perguruan tinggi kedinasan, tentunya akan menambah akses bagi masyarakat, khususnya bagi masyarakat yang memiliki kecerdasan akan tetapi kurang mampu secara finansial.

NB: Khusus mengenai STAN, info pendaftaran dapat dilihat disini.



0 comments: