Tuesday, September 23, 2008

Keluhan [Saya] Sebagai Konsumen

beberapa minggu ini saya sempet dibikin senewen sama salah satu Bank terkemuka di Indonesia. minggu pertama Agustus kemarin, saya tertarik untuk apply kartu kredit karena kebetulan mereka sedang ada stand di kantor. FYI, kantor saya memang seringkali kedatangan stand-stand yang mempromosikan produknya, entah itu Bank, Asuransi, Perumahan, hingga Laptop. singkat kata saya apply dan diminta menunggu maksimal 2 minggu akan ada konfirmasi.

dua minggu berlalu tanpa ada konfirmasi. okelah, saya berinisiatif untuk menelpon mereka. dalam pembicaraan telpon itu, pihak bank mengatakan bahwa aplikasi saya sedang di proses dan diminta untuk menunggu hingga minggu depannya. kemudian minggu depannya saya kembali berinisiatif menelpon mereka. jawaban yang sama kembali saya terima: aplikasi saya sedang diproses. setelah 3 minggu menunggu saya masih bersabar. usaha yang sama saya lakukan di minggu keempat mengingat jika saya tidak aktif menelpon mereka, tentunya mereka tidak akan menelpon saya. mau tidak mau, beginilah nasib para konsumen di negeri ini. hanya untuk memperoleh kejelasan status aplikasi saja mesti menunggu dan mesti aktif menghubungi. seharusnya konsumen kan hanya diam menunggu dikabari, tentunya dalam jangka waktu yang mereka berani sebutkan. tapi kenyataan yang terjadi berbeda jauh. seperti yang saya alami. bahkan hingga minggu keempat setelah pengajuan aplikasi, belum ada kabar juga dari mereka. lagi-lagi saya mencoba menghubungi mereka

hingga minggu pertama september, saya masih mencoba mencari tahu status aplikasi saya. dan akhirnya setelah menunggu lama, akhirnya aplikasi saya disetujui. namun masalah tidak berhenti disitu.aplikasi sudah disetujui, sekarang tinggal menunggu pengiriman kartu kredit beserta PIN. mereka menginformasikan bahwa pengiriman sudah dilakukan pada tanggal 9 September. saya diminta menunggu seminggu.

seminggu kemudian, lagi-lagi saya kecele, dan akhirnya saya (masih dengan sabar hati) mencoba menghubungi mereka. dan jawabannya sudah dikirim ke alamat yang saya maksud. saya diminta menunggu hingga minggu depan, jika masih belum diterima agar segera menghubungi mereka kembali.

minggu kedua september, kesabaran saya mulai habis. dan saya pun kembali menelpon, yaitu hari ini. melalui telpon mereka menginformasikan memang sudah dikirim oleh kurir, entah itu PIN atau kartu kreditnya. mereka menyarankan akan membuatkan laporan percepatan pengiriman kartu. saya meminta agar sebelum mudik Lebaran (maks. Jumat minggu ini) kartu sudah sampai di tangan saya. mereka menyetujui.

sayapun berinisiatif mencoba untuk mengecek tempat penerimaan surat di kantor. kebetulan kantor saya berada dalam satu wilayah dengan kantor pusat. dimana administrasi penerimaan suratnya pun berbeda. biasanya untuk pengiriman surat pribadi lainnya tidak ada masalah karena kurir langsung mengantarkan ke dalam ruangan kantor, langsung kepada orang yang bersangkutan. namun, kali ini saya cukup kaget karena ternyata PIN saya memang sudah dikirimkan. tapi tidak ke alamat kantor saya, melainkan ke alamat kantor pusat. jadilah PIN tersebut menunggu di sana selama seminggu lebih, menunggu ada yang mengambil. untung saja hari ini saya mengecek ke bagian penerimaan surat kantor pusat. coba kalu tidak, entah sampai kapan PIN tersebut saya terima.

setelah PIN saya ambil, saya mengkonfirmasikan ke pihak Bank bahwa PIN sudah saya terima dan meminta mereka agar segera mengirimkan kartu saya dalam minggu ini. mereka pun sudah membuatkan laporan atas telpon saya selama ini dan berjanji akan mengirimkan langsung ke alamat kantor saya paling lambat Jumat.

saya hanya berharap semoga kejadian ini tidak terulang lagi. sudah jelas sekali dalam aplikasi saya tulis lengkap alamat kantor, tapi kenapa masih nyasar ke kantor pusat. bukankah dalam prosedur surat menyurat, pihak kurir bank akan meminta tanda tangan langsung si penerima surat, dan bukan orang lain. tapi mengapa dalam kasus saya ini, pihak kurir dengan santainya mau menerima tanda tangan pihak lain selain saya (dimana saya tidak menguasakan dan mengetahui siapa yang menandatangani bukti penerimaan tersebut)? apa karena alasan kepraktisan saja? apakah pihak kurir bank tidak pernah berpikir pentingnya surat yang mereka kirim?

Ok, disalah satu sisi saya tidak menyalahkan pihak Bank saja yang lalai dalam memilih kurir pengiriman. di satu sisi juga saya menyalahkan bagian penerimaan kantor pusat. sudah jelas itu adalah surat pribadi, dan jelas pula alamat yang dituju. kenapa sesaat setelah menerima tidak segera menghubungi kantor saya? padahal kantor saya dan kantor pusat berada dalam wilayah yang sama. apa jadinya jika saya hanya berdiam diri dan menunggu? jangan-jangan bulan depan saya hanya menerima tagihan saja, tanpa pernah menggunakannnya. kemudian jelas pula dalam surat pribadi kasus saya isinya adalah PIN kartu saya, kenapa harus dibuka? meskipun kertas PIN belum terbuka, namun amplop yang terbuka mengindikasikan kurang pahamnya mereka dalam memisahkan surat pribadi dan surat untuk kepentingan kantor. dan parahnya, ternyata bukan hanya saya yang mengalami. berbarengan dengan surat saya, ternyata ada juga surat tagihan Indovision dan Telkomsel yang ditujukan buat rekan kantor saya.

duh, serba salah memang. disalah satu sisi pihak kurir Bank jelas-jelas lalai dalam mengirimkan surat tidak ke alamat yang dituju. di sisi lain juga kenapa pihak yang menerima tidak mengabari yang pihak yang bersangkutan jika suratnya telah diterima.

apa kata dunia?

1 comments:

ipied said...

kenapa selalu bermasalah dengan urusan perjasaan sih???
hehehe.... hati2 yang bermasalah merekanya tau jangan2 dari kamunya yang emang maunya macam2....hehehehehe