Monday, January 19, 2009

Saya Ngedumel Sebagai Rakyat

hidup di negeri ini memang kudu tahan banting. gak boleh jatuh semangat. tiap hari kudu kuat menghadapi kerasnya kehidupan. hari demi hari, bulan demi bulan, hingga tahun ke tahun. tanpa semangat jangan harap bisa bertahan hidup di sini.

seperti apa yang dihadapi di awal 2009 ini. belum genap sebulan merayakan pergantian tahun, kembali rakyat harus menghadapi banjir. bukan hanya banjir, tapi juga kebakaran dahsyat di Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara. dalam satu waktu, dua hal yang berlawanan telah membuat sebagian besar warga Jakarta kocar-kacir. di sisi lain berusaha mencari air untuk memadamkan api, di sisi lainnya mengutuk dan meratapi air yang menggenangi tempat tinggalnya. kontra, tapi tetap saja dalam hal ini seringkali rakyat yang dirugikan.

beginikah nasib rakyat negeri ini?


jika dicari siapa yang salah, tentu semuanya akan saling tuduh tanpa akhir. memang sudah begitu watak manusia. terus apa yang salah dalam hal ini? tentunya adalah salah dalam hal pengelolaan dan manajemen. dan yang paling bertanggung jawab dalam hal ini tentunya adalah pemerintah, sebagai penyelenggara negara. tentunya pemerintah berisikan mereka-mereka yang pintar dalam segala bidang. asalkan dalam menjalani tugas dan kewajibannya mereka benar-benar ikhlas dan tidak tertunggangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu, insya ALLAH semua akan berjalan baik.

sebentar lagi Pemilu. pesta rakyat katanya. saat rakyat bebas menentukan pilihan, menyumbangkan suaranya. memilih pemimpin yang diharapkan dapat membawa negara ini ke arah yang lebih baik. tapi apa yang kerap terjadi? seringkali rakyat hanya dijadikan komoditas politik belaka. saat musim kampanye, mereka dirayu-rayu dengan segudang janji yang muluk-muluk namun pada akhirnya saat mereka terpilih dan menjadi pemimpin, suara mereka cuma terdengar sebagai angin lalu.

jangankan pemilu, pilkada pun sama. awal kampanye menjanjikan pendidikan gratislah, mengatasi banjirlah, memperluas lapangan pekerjaanlah, dan lah-lah lainnya. sekarang lihat kenyataanya, banjir masih saja melanda. menyengsarakan rakyat. pendidikan gratis? jangan harap, untuk masuk sekolah SD negeri saja tidak cukup dengan uang ratusan ribu. uang seragam, uang bangunan, uang buku, uang bla-bla. belum lagi masalah pekerjaan yang semakin susah dicari, berbanding terbalik dengan gampangnya mencari kasus korupsi. apa sih yang salah dengan negara ini?

di Jakarta saja, seringkali disiarkan di televisi berita tentang penggusuran lapak pedagang kaki lima. alasannya mengganggu ketertiban dan kenyamanan. lalu mana solusinya? katanya para pedagang akan direlokasi di tempat yang baru. tapi pedagang diharuskan membayar sewa yang harganya tidak terjangkau oleh kantong mereka. jelas pedagang tidak mau. mereka menolak dan akhirnya ribut dengan petugas.

jika mau dilihat lebih, pedagang kaki lima maupun sektor informal lainnya sebenarnya berpotensi mengurangi pengangguran. bayangkan jika tidak ada mereka, mungkin Jakarta ini akan penuh dengan preman, pencopet, maupun penodong. tapi sekali lagi, dalam hal ini solusi yang ditawarkan ternyata kurang tepat. berkesan memaksa dan tak jarang hanya menguntungkan golongan tertentu.

belum lagi masalah tata kota yang semakin semrawut. tiap tahun banjir kembali melanda. dan tiap tahun pula tak ada solusi yang berarti. jika ditilik secara logika, banjir datang karena air tak terbendung dari kawasan luar Jakarta. kawasan yang seharusnya menjadi penahan banjir malah dikomersialkan. lahan hijau dibabat habis, diganti dengan villa ataupun pertokoan mewah. parahnya seringkali pembangunan pertokoan mewah (mall) tersebut dilakukan dekat dengan pasar tradisional. sungguh ironis sekali. sudah jelas dengan hal ini, pasar akan beralih ke mall tersebut, dan akhirnya pasar tradisional akan meredup, bahkan bisa mati dan melahirkan pengangguran baru.

lahan hijau peruntukkannya sudah tidak jelas lagi. demi alasan ekonomi semua dibabat habis tanpa memikirkan dampak lebih lanjut. seperti yang terjadi di kawasan Puncak. banyak villa berdiri megah. dan akhirnya saat musim penghujan datang, air yang tak terbendung menimbulkan banjir, dan Jakarta harus bersiap menghadapinya. lagi-lagi rakyat yang dirugikan. seperti yang terjadi sekarang ini, Jakarta kebanjiran.

soal kemacetan, siapapun yang mengelola Jakarta tetap saja akan bingung mencari solusi yang tepat. Busway? masih berjalan dan sepertinya perlu dikembangkan lagi. jangan hanya membangun separator dan mendiamkannya. MRT? hingga saat ini pun hanya tinggal tiang pemancangnya saja, kelanjutannya tak ada. yang ada hanya kebijakan memajukan jam sekolah dan jam berangkat-pulang karyawan kantor yang notabene malah menambah jam macet di ibukota. berbagai solusi sudah dilakukan, tapi seringkali solusi tersebut tidak berlanjut. tidak konsisten, seperti pergantian pemimpin. tiap ganti pemimpin, ganti kebijakan. kebijakan baru tentunya butuh anggaran baru.

dampaknya buat rakyat? sampai sekarang masih belum terlihat adanya kebijakan yang memihak rakyat. entah apa yang dilakukan oleh petinggi-petinggi di gedung rakyat sana. mungkin cuma datang rapat, duduk, diam, dengar, dan duit? datang rapat saja banyak yang bolos, dengar mungkin hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan. entahlah. yang pasti dengan begitu saja, mereka sudah dapat gaji dan tunjangan yang cukup bikin ngiler rakyat. lebih dari itu, pensiun juga! pantas saja banyak yang berminat mencalonkan diri jadi wakil rakyat. saya juga pengen :P

maaf banget kalo saya cuma bisa nulis dan ngedumel tidak jelas seperti ini. saya hanya rakyat kecil yang juga bagian dari kehidupan di Jakarta. Semoga apa yang saya tulis gak menyinggung golongan tertentu, tapi dianggap sebagai kritik dan saran untuk maju kedepan. demi bangsa ini, demi rakyat semua.

*bersyukur itu membuat segalanya lebih indah*

3 comments:

jUnE0u said...

saya dukung anda..*loh?*

di sini juga banjir dimana2 nih..dampak globalwarmng trnyata global bgt ya bro!

btw relink y,,punya lo udah gw bookmark!

kacrut said...

setujuh...

hehehhehheheh


setubuh...


hehehhehe


Vote es kopi dan tipih buat jadi caleg.. qiqiqiiqiqiq

rerere said...

baru kali ini gw lihat rakyat kecil untuk berenang aja bayar 160rebu, dan ngeplurk terus ampe karmanya dikit lagi 100

bukannya rakyat kecil sembako aja susah (boro2 internet), hihihi

*mungkin lebih tepat mewakili rakyat kecil kali bro

hehehehehhehe pisss