Monday, February 23, 2009

Kejujuran dalam Bus

Weekend kemarin, saya berkesempatan naik bus, sebuah angkutan umum yang lama tak saya gunakan. ternyata setelah lama tak naik bus, ada perasaan aneh juga saat mencobanya kembali. perasaan kurang nyaman tapi juga senang. yah, mungkin bisa dikatakan agak grogi juga. lah, bagaimana saya gak grogi, terakhir kali naik bus itu sekitar tahun 2006 lalu. sudah lebih dari dua tahun. selama itu hingga sekarang, saya hanya naik motor dan angkot. jadi kalo sekarang ada yang bertanya rute bus pun saya tidak hapal. lagi pula saya bukan kernet bis :P

jadi naik bus buat saya adalah suatu pengalaman baru (lagi). bagaimana aroma khas solar tercium jelas dan membuat perut jadi agak mual (ndeso?). belum lagi himpitan kursi yang hanya cukup untuk menekukkan lutut. sukses membuat saya pegal linu. juga suara cempreng anak kecil yang mengamen seadanya. hanya bermodal suara serak dan belas kasihan penumpang, receh demi receh mengalir. tak lupa pula pengamen dewasa dengan gitar dan drum kecil. aroma keringat penumpang yang bercampur baur dengan udara hingga godaan pedagang yang mondar-mandir menjajakan daganganya. dari sisir hingga kartu perdana. dari makanan hingga buku untuk dibaca. semua ada. semua hilir-mudik tanpa henti.

yah, memang seperti itulah suasana bus umum yang biasa kita jumpai setiap hari.

lalu?


tapi bukan itu yang membuat saya tersenyum di tengah sesaknya penumpang. tapi tak lain adalah karena saya menjumpai kejujuran dalam bus yang saya tumpangi. sebuah hal yang sekarang ini langka ditemui. apalagi jika berkaitan dengan uang. seperti yang saya alami kemarin saat naik bus Damri rute Dago-Leuwi Panjang.

awal saya naik bus ini, saya telah diinformasikan mengenai ongkosnya, Rp 1.800,- sekali jalan. bahkan sempat saya lihat di panel depan, tertulis jauh/dekat Rp 1.800,-. wew, murah meriah nih. meskipun begitu saya sempat berpikiran negatif, kalau memberikan uang tidak pas, pasti tidak akan ada kembalian. persis seperti angkot dan bus serta metromini di jakarta. jika terdapat tarif Rp 1.800,- maka yang terjadi di lapangan adalah pembulatan tarif menjadi Rp 2.000,-.

tapi ternyata dugaan saya salah. untuk dua penumpang, selembar uang Rp 20.000,- dikembalikan Rp 16.400,- pas! lengkap dengan dua keping uang logam Rp 200,-. hehehe, salut saya akan kejujuran sang kondektur. padahal banyak lho orang yang membayar dengan uang yang tidak pas, dan dia tetap saja menghitung dan mengembalikan kelebihannya, meski hanya Rp 200,-. bayangkan saja, berapa banyak keping uang logam nominal Rp 200,- yang harus disediakan. salut saya, meski keadaan bus tidak dapat dikatakan baik lagi dan terkesan sudah tua, keropos. tapi itu semua terbayarkan dengan kejujuran dalam mengembalikan uang kembalian. jadilah saya tidak menghiraukan cemprengnya suara pengamen dan himpitan penumpang yang cukup untuk membuat kaki pegal-pegal.

sekarang coba bayangkan jika kita naik metromini di Jakarta. dengan tarif yang sama, jangan harap kita mendapatkan uang kembalian. alasan tidak ada uang kecil atau malas merogoh kotak uang sudah biasa. sebagai penumpang, kita pun malas berdebat. bukan karena nilai nominalnya yang tidak seberapa, tapi karena hanya akan menghabiskan waktu saja. belum lagi adanya perasaan malas dan malu untuk memintanya.

dan bukan hanya itu, sepulangnya kembali menuju Dago, saya tetap menggunakan bus dengan jurusan yang sama. awalnya saya mengira lagi mungkin kejujuran tadi hanya terjadi pada sebagian bus saja, tidak semuanya. tapi saya salah lagi, ternyata dengan bus yang berbeda pun, perlakuan tetap sama. uang kembalian tetap dikembalikan dengan utuh. duh, makin salut saya akan kejujuran kondektur bus Damri di Bandung ini. meskipun kondisi bus sudah tua dan hampir rusak, namun penampilan kondektur tetap rapi dan ramah terhadap penumpang. meskipun dengan gaji yang tidak seberapa, mereka tetap jujur melayani penumpang.

duh, seandainya para pejabat di gedung rakyat bisa meniru teladan kejujuran mereka, tentunya mereka tidak perlu malu sampai menambahkan embel-embel gelar ningrat maupun memiliki anak artis hanya untuk menarik simpati dari rakyat.

2 comments:

ipied said...

wah... sumpah lu?? gile di jakarta aja gak pernah kejadian kayak gitu... malah gwe pernah pada saat ongkos metro masih 2500 bayar 5000 cuma di kembalikan 2000, dia bilang gak ada 500 tapi ternyata gw gak sampai tujuan malah di oper, lu bayangin dong rasanya gw mau marah kayak apa... tapi ya sudah lah.. saya harus bergegas ke kantor takut telat, padahal dah pengin gw tonjok kernetnya (annoyed)

tedy said...

nah itu dia pied, makanya aku rada maknyuss juga pas kemaren nyobain ngebis... udah gitu pakeannya seragam dan rapi pula. cuma bisnya aja yang butuh perbaikan interior..cek deh fotonya...