Wednesday, August 19, 2009

Merah Putih: 64 Tahun Indonesia


Tahun ini kita sebagai bangsa indonesia merayakan Dirgahayu Kemerdekaan RI yang ke-64. Sebuah momen kemerdekaan yang menurut saya cukup fantastis dan lebih mengena ketimbang perayaan pada tahun sebelumnya. Kenapa? Karena beberapa waktu yang lalu indonesia sempat diguncang bom JW-Marriot II. Karena peristiwa itulah, satu hal yang paling saya rasakan adalah semakin meningkatnya rasa nasionalisme dan kebangsaan kita sebagai warga negara Indonesia. Hal ini dapat kita lihat melalui berbagai macam atribut merah putih yang sering kita jumpai, terutama di dunia maya (yang dipopulerkan melalui twitter). Situs Good News From Indonesia pun menjadi salah satu situs yang mengingatkan kita bahwa ditengah segala hal negatif mengenai Indonesia, ternyata masih banyak hal positif yang kita bisa kita jumpai. Jujur, saya merasa bersyukur dan bangga menjadi warga negara Indonesia.

Tak hanya di ranah maya, kebanggaan sebagai bangsa indonesia dan aroma perayaan kemerdekaan pun saya jumpai di ranah perfilman melalui Merah Putih. Sebuah film yang mengisahkan perjuangan bangsa indonesia melawan penjajah dengan balutan konflik internal yang menarik.

Merah Putih berkisah tentang perjuangan bangsa Indonesia untuk kemerdekaan dari agresi militer Belanda pada tahun 1947. Dimana pada saat itu, Belanda menyerang dan mengejar pejuang hingga ke pelosok hutan. Hingga pada suatu malam Belanda berhasil menghancurkan sekolah tentara rakyat dan memaksa para pejuang untuk mundur. Mereka mundur bukan karena takut, tapi lebih untuk menyusun strategi menyerang balik. Merah Putih tak hanya berkisar desingan peluru dan ledakan bom, juga konflik diantara tokoh pejuang. Film ini pun sebenarnya membawa pesan bahwa meskipun kita berbeda tetapi hakikatnya tetap satu, Indonesia. Hal ini terlihat dari penokohan pejuang yang terdiri dari Tomas (Donny Alamsyah), seorang Kristen, anak petani yang berasal dari sulawesi. Kemudian Amir (Lukman Sardi), seorang guru Islam berkebangsaan Jawa yang beralih profesi menjadi tentara karena kecintaannya pada bangsa ini. Dayan (Teuku Rifnu Wikana), pemuda Bali yang cinta damai dan sabar. Serta Surono (Zumi Zola) dan Marius (Darius Sinathrya) yang berasal dari kalangan mampu dan terpelajar yang secara sukarela mengabdikan diri menjadi tentara. Meski pada awalnya mereka berbeda dan sempat berkonflik, namun pada akhirnya semua bersatu melawan Belanda.

Di tengah serbuan tren perfilman Indonesia yang berkisar horor dan komedi vulgar, merah Putih bisa menjadi pilihan terbaik di bioskop (selain Merantau). Karena selain menyuguhkan kisah yang menggugah rasa nasionalisme dan kebangsaan, film ini pun bisa dibilang seru dan tidak seperti film Indonesia lain yang alur ceritanya gampang ditebak. Adanya keterlibatan beberapa pakar perfilman Hollywood membuat film ini terasa ’lebih’, terutama dari segi actionnya. Hal ini dapat dilihat melalui cukup banyaknya ledakan bom, granat, dan desingan peluru yang mewarnai film ini. Meskipun begitu, jika dibandingkan film peperangan Holywood semacam Thin Red Line, Black Hawk Down, Saving Private Ryan, Behind Enemy Lines, maupun Pearl Harbor, film ini masih jauh dari kata sempurna. Klimaks yang kurang terasa sekali dalam film ini. Pada awal film, semuanya terasa bagus. Akan tetapi ketika konflik mulai terjadi (saat Belanda menyerang), adegan demi adegan terasa kurang pas dan kurang greget untuk sebuah film perang. Meskipun masih terasa kurang maksimal, secara keseluruhan, film ini layak tonton. Terlebih lagi, saat ini Indonesia tengah merayakan HUT kemerdekaannya. Tidak hanya itu, rencananya film ini akan dibuat trilogi lho.

So, merasa ingin turut serta merayakan HUT kemerdekaan RI tapi enggan berkotor-kotor di panjat pinang, atau takut jatuh saat balap karung? Cobalah tonton Merah Putih.

Merdeka!

9 comments:

irrrr said...

manstap kop, lumayan untuk ukuran indonesia.
walau kadang suara tembakan dan aktingnya kurang pas :D beda sepersekian detik

tapi layak tonton kok :)

tunjungs said...

Tapi kok di gambar iklan'nya, Darius pake jam tangan keren ya .. Huhu.

eskopidantipi said...

@irrr, yah mendingan meski kurang maksimal... kurang rame orang2nya...

@tunjungs, sepanjang film dia pake loh... *mahal*

Bandit Pangaratto said...

Merdekaaa.... hehhehhe

Berry Devanda said...

maju terus pantang mundur...
jayalah indonesia...
salam kenal...

New Bie Oon said...

Merdeka Ataoe Tertindas.. Merdekaa!!!!

morishige said...

mantap. memang terlalu dini untuk mengharapkan film perang indonesia seseru film2 perang hollywood.. perlahan lah..
nice review. saya bahkan gak ngerti film ini sebelumnya. :mrgreen:

Fenty Fahmi said...

pengen nonton setelah nonton merantau kemaren, kok kaya'nya lebih menarik ini ya ... secara yang ganteng lebih banyak *ngelirik zumi zola* haalaaahhh ... hahahaha, eh eh ... ku link ya blogmu :D

marsudiyanto said...

Hidup Merah Putih !!!
Merdeka...