Friday, September 18, 2009

Gifted Hands: The Ben Carson Story

"Knowledge is power!"

Kalimat itulah yang secara tidak langsung mengilhami sebuah kisah nyata seorang dokter neurosurgeon, Benjamin Carson. Dimana, dengan keteguhan hati, ketekunan, dan niat, tak ada hal yang tak mungkin di dunia ini. Meskipun itu dari seorang anak yang selalu dijuluki 'dumb' semasa kecilnya. Siapa sangka melalui pengetahuan dikombinasikan dengan kasih sayang dan perhatian seorang ibu yang sabar dan penuh kasih sayang, si anak 'dumb' itu bisa merubah jalan hidupnya hingga menjadi seorang yang sukses. Hingga nama dan kisahnya diabadikan dalam sebuah buku dan film: Gifted Hands, The Ben Carson's Story.


Film ini berkisah secara flashback, diawali dengan adanya kasus bayi kembar siam. Selanjutnya, adegan demi adegan menggambarkan kisah Benjamin Carson dari kecil hingga menjadi dokter neurosurgeon terkenal dan dihadapkan pada kasus bayi kembar siam tersebut. Kesemua jalinan kisah dirangkai cukup menarik dan mengharukan, lengkap dengan pesan dan hikmah di balik setiap kejadian yang dialami Ben Carson.

Sebagai penonton, jujur saya merasa terhanyut dengan jalan cerita yang kental dengan nuansa kasih sayang, perjuangan hidup, dan pengorbanan. Terutama dari sang Ibu yang selalu sabar dan perhatian terhadap anak-anaknya. Meski terkadang tegas, namun semua itu membuktikan bahwa peranan dan doa seorang ibu turut membantu menentukan jalan hidup si anak. Apakah akan berakhir sukses atau tidak. Yang tentunya semua itu tidak lepas dari niat, usaha, dan doa.

Begitu banyak pesan dan hikmah dalam film ini. Yang kesemuanya itu seringkali kita abaikan. Salah satunya adalah pesan ibu Ben yang menegaskan pada dasarnya tidak ada orang yang bodoh. Tuhan telah memberikan bakat dan kemampuan sebagai anugerah kepada setiap orang untuk dapat digunakan dan bermanfaat di dunia. Kemudian kejujuran, dimana dengan hidup bersih dan jujur, kebahagiaan akan datang dengan sendirinya. Juga kebaikan, dengan berbuat baik kepada sesama, itu sama artinya dengan berbuat baik kepada diri sendiri. Lalu, tentang pengetahuan sebagai kekuatan yang bisa didapat dari membaca maupun melalui keteladanan dan pembelajaran mendalam. Dimana kesemuanya itu tetap tak terlepas dari peranan Tuhan.

Dan, semua itulah yang bisa membuat kita lebih berharga dan menghargai kehidupan. Sebab, kehidupan sebenarnya adalah anugerah terbesar yang kita dapat. Tinggal bagaimana kita bisa menghargai dan memanfaatkannya dengan baik.

Nah, yang jadi pertanyaan, sudahkah kita menghargai dan memanfaatkan kesempatan yang ada dalam hidup kita?

3 comments:

ipied said...

wah menarik nih kayaknya.,... masuk list ah... nanti kucari ;))

morishige said...

jujur nih ya.. boro-boro memanfaatkan kesempatan, saya kadang-kadang bahkan kurang bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan pada saya..
semoga kedepan saya bisa insyaf.. :(
amin..

eskopidantipi said...

@ipied: hayo hayo dicari... :P

@morishige: sama dong...amiiinn :)